Banyak ibu hamil yang hendak  melahirkan di rumah. Ada tidak sedikit  alasannya, misalnya sebab  lebih nyaman dan tidak butuh  repot ke lokasi  tinggal  sakit atau lokasi  tinggal  bersalin, sampai  keinginan untuk melalui  persalinan seraya  dikelilingi keluarga. Namun, apakah mencetuskan  di lokasi  tinggal  tergolong aman?

Jika situasi  ibu dan bayi sehat, sebenarnya  proses persalinan boleh saja dilaksanakan  di rumah, walau  lebih baik dilaksanakan  di kemudahan  medis yang lengkap. Akan tetapi, walau  lebih baik mencetuskan  di kemudahan  medis, sejumlah  rumah sakit atau lokasi  tinggal  bersalin terdapat  yang memberi batas  atau bahkan tidak menyerahkan  izin pada anggota family  untuk menemani  ibu hamil ketika  persalinan.



Hal ini sebetulnya  bertujuan supaya  keluarga tidak mengganggu dokter atau bidan saat berjuang  menolong ibu dan bayi sekitar  proses persalinan. Namun, pembatasan tersebut malah  menjadi di antara  bahan pertimbangan mayoritas  ibu hamil untuk mencetuskan  di rumah.

Amankah Melahirkan di Rumah?
Sejumlah studi di luar negeri mengindikasikan  bahwa mencetuskan  di lokasi  tinggal  sama amannya dengan mencetuskan  di lokasi  tinggal  sakit, terutama andai  ibu hamil dan bayi memang berisiko rendah merasakan  komplikasi persalinan.

Akan namun  belum ada riset  di domestik  yang bisa  meyakinkan  bahwa mencetuskan  di lokasi  tinggal  aman guna  dilakukan. Di samping  itu, perlu dikenang  bahwa sekitar  persalinan ibu tetap me sti tidak jarang  kali  didampingi oleh bidan atau dokter.

Hal ini karena dapat  saja sekitar  persalinan ibu hamil memerlukan  penanganan medis tertentu, laksana  induksi, episiotomi, atau bahkan operasi caesar.

Di samping  karena dalil  diperlukannya perbuatan  medis tertentu, jarak antara lokasi  tinggal  dan lokasi  tinggal  sakit atau lokasi  tinggal  bersalin juga  harus lumayan  dekat. Alasannya ialah  agar ketika  persalinan tidak berlangsung  lancar, ibu bisa  segera dirujuk ke lokasi  tinggal  sakit. Karena itu, semua  dokter dan bidan lebih menyarankan  para ibu untuk mencetuskan  di lokasi  tinggal  sakit.

Beberapa Persyaratan Melahirkan di Rumah
Tidak seluruh  ibu hamil dapat  melahirkan di rumah. Ada sejumlah  hal yang butuh  dipenuhi supaya  kamu bisa  menjalani persalinan dengan aman di rumah. Berikut ini sejumlah  syaratnya:

1. Kondisi kesehatan yang baik
Ibu dapat  melahirkan di lokasi  tinggal  bila situasi  kehamilan berlangsung  normal dan tidak berisiko. Hal ini dapat  diketahui dengan rutin mengerjakan  pemeriksaan kehamilan ke dokter kandungan atau bidan.

Jika memiliki situasi  tertentu atau penyulit yang berisiko mengakibatkan  persalinan terganggu, maka ibu usahakan  mencetuskan  di lokasi  tinggal  sakit. Beberapa urusan  yang menciptakan  seorang ibu hamil tidak disarankan  untuk mencetuskan  di rumah, yakni:

Pernah menjalani operasi caesar pada persalinan sebelumnya.
Hamil kembar.
Gawat janin.
Kelahiran prematur, yakni  kelahiran dengan umur  kandungan tidak cukup  dari 37 minggu.
Kehamilan posmatur, yaitu umur  kehamilan lebih dari 41 – 42 minggu, tetapi  janin belum pun  lahir.
Posisi bayi sungsang.
Memiliki masalah kesehatan tertentu sekitar  kehamilan, laksana  diabetes gestasional, preeklamsia, atau infeksi ketuban ketika  hamil.
Apabila anda  mempunyai  salah satu dari situasi  di atas, maka opsi  untuk mencetuskan  di lokasi  tinggal  sudah pasti  tidak disarankan. Hal ini karena sejumlah  kondisi di atas memerlukan  penanganan eksklusif  yang me sti dilaksanakan  oleh dokter spesialis kandungan di lokasi  tinggal  sakit.

2. Bukan kesatu  kali melahirkan
Bila anda  sedang menjalani kehamilan guna  kesatu  kalinya, kamu disarankan  untuk menjalani persalinan di kemudahan  kesehatan, laksana  klinik bersalin, puskesmas, atau lokasi  tinggal  sakit. Hal ini dilaksanakan  untuk menghindari risiko yang bisa  membahayakanmu kondisimu dan bayi.

Namun, guna  kehamilan anak kedua dan berikutnya, asalkan kondisimu dan janin di dalam kandungan sehat, maka boleh saja untuk mencetuskan  di rumah, sekitar  ada bidan atau dokter yang menolong  persalinan.

3. Persalinan dibantu  oleh bidan atau dokter

Pastikan persalinan di lokasi  tinggal  ditangani oleh dokter kandungan atau bidan yang mempunyai  izin praktik sah  dan kompetensi yang baik. Jika anda  memilih untuk ditolong  bidan, bidan itu  harus terhubung dengan dokter kandungan dan lokasi  tinggal  sakit terdekat untuk situasi  darurat.

Selama persalinan, bidan atau dokter bakal  secara rutin  mengecek  denyut nadi, suhu tubuh, desakan  darah, dan detak jantung bayi. Setelah melahirkan, situasi  ibu dan bayi akan dicek  secara saksama. Apabila ibu atau bayi yang baru lahir memerlukan  penanganan medis, maka dokter atau bidan bakal  merujuk ke lokasi  tinggal  sakit.

Meski menyimpulkan  bersalin dengan ditolong  bidan, anda  harus tetap berkonsultasi seputar pilihan mencetuskan  di lokasi  tinggal  dengan dokter kandungan.

4. Sarana dan lokasi  tinggal yang memadai
Konsultasikan dengan dokter mengenai  apa yang me sti dipersiapkan guna  menjalani persalinan di rumah. Di samping  itu, pastikan bidan membawa   peralatan yang dibutuhkan  untuk mengerjakan  tindakan darurat, laksana  oksigen, infus, dan persediaan obat-obatan guna  menghentikan perdarahan pasca melahirkan.

Sebelum mendekati hari estimasi  lahir (HPL), bidan seringkali  akan menilai apakah rumahmu lumayan  layak sebagai lokasi  bersalin, mulai dari sisi  kebersihan lokasi  tinggal  dan lingkungan sekitar, serta apakah lokasi  tinggal  mempunyai  akses atau jarak yang dekat dengan lokasi  tinggal  sakit terdekat.

5. Akses ke lokasi  tinggal  sakit untuk suasana  darurat
Di samping  jarak yang dekat, pikirkan pula soal ketersediaan transportasi guna  membawamu dari lokasi  tinggal  ke lokasi  tinggal  sakit. Di samping  itu, jarak dan masa-masa  tempuh yang ideal dari lokasi  tinggal  ke lokasi  tinggal  sakit dianjurkan  tidak lebih dari 15 menit. Makin cepat masa-masa  tempuh, maka semakin cepat pula penanganan bisa  dilakukan.

Kondisi yang Mengharuskan Dirujuk ke Rumah Sakit

Proses persalinan memang tidak dapat  diprediksi. Persalinan yang tadinya  berjalan lancar, dapat  saja tiba-tiba merasakan  kendala. Beberapa tantangan  selama persalinan yang mewajibkan  persalinan dilaksanakan  di lokasi  tinggal  sakit, antara lain:

Gawat janin, misalnya sebab  lilitan tali pusar.
Persalinan lama atau tidak merasakan  kemajuan.
Masalah pada plasenta, contohnya  plasenta previa atau plasenta tercabut dari dalam dinding rahim sebelum bayi sukses  dilahirkan (solusio plasenta).
Air ketuban berbau busuk atau bernanah (air ketuban terinfeksi bakteri).
Setelah melahirkan, plasenta tidak terbit  atau terbit  dengan tidak utuh.
Janin menelan mekonium atau tinjanya sendiri.
Bayi berisiko tercetus  dengan masalah pernapasan berat atau mempunyai  nilai Apgar.
Di Indonesia sendiri persalinan dihimbau untuk dilaksanakan  di kemudahan  kesehatan yang memadai.

Akan tetapi, mencetuskan  di lokasi  tinggal  masih menjadi pilihan untuk  ibu hamil yang bermukim  di wilayah  terpencil. Kondisi geografis dan keterbatasan akses mengarah ke  puskesmas atau lokasi  tinggal  sakit, menciptakan  mereka lebih gampang  untuk mencetuskan  di lokasi  tinggal  dengan ditolong  bidan yang berkompetensi.

Meski demikian, tidak seluruh  ibu hamil dapat  memilih untuk mencetuskan  di rumah. Dibutuhkan tidak sedikit  persiapan, pengetahuan seputar kehamilan, serta kesiapan jasmani  dan mental guna  menjalani persalinan di rumah.

Perlu disalin  bahwa pemerintah tetap menyarankan  ibu hamil untuk mencetuskan  di kemudahan  kesehatan yang memadai. Hal ini dilakukan supaya  proses persalinan dapat  berjalan dengan aman.